Nabi Yang Penyayang Penuh Cinta

Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam tidak hanya menunjukkan cinta kasih sayang kepada manusia saja bahkan kepada hewan pun Nabi juga menunjukkan cinta kasih sayang.

 

Ketika Nabi shalallahu alaihi wasallam sampai di Araj saat menuju Makkah, Nabi melihat anjing betina sedang menyusui anak-anaknya. Nabi memerintahkan Jamil bin Suraqah untuk berdiri menjaga anjing dan anak-anaknya agar tidak diganggu oleh pasukan (Syekh Sholihi Asy Syami, Subul Al Huda wa Rasyad, 5/212)

 

Kami bersama Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dalam perjalanan, Nabi berangkat untuk keperluan beliau. Kami menemukan burung kecil dengan dua anaknya. Lalu kami ambil keduanya. Ternyata induk burung mengepak-ngepakkan kedua sayapnya. Kemudian Nabi datang dan bertanya: "Siapa yang memisahkan induk burung ini dengan anaknya? Kembalikan anaknya kepada induknya" (HR Abu Dawud)

 

Nabi melihat sarang semut yang kami bakar. Nabi bertanya: "Siapa yang membakar ini?". Kami menjawab: "Kami". Nabi bersabda: "Tidak boleh menyiksa dengan api, kecuali (ALLAH) yang menciptakan api" (HR Abu Dawud)

 

Nabi kita saja penyayang (penuh cinta) bahkan kepada hewan walaupun seekor anjing, lalu mengapa kita tega menyakiti hewan apalagi manusia.. sebenarnya kepada Nabi yang mana kita mengambil keteladanan?

Sembuh

Di sebuah desa yang sama, tinggal Abdul, Ali, dan Karim. Abdul adalah seorang tukang batu, dia juga punya kebiasaan buruk yaitu bermabuk-mabukan dan tidur dengan wanita-wanita tuna susila.

Ali adalah seorang petani. Dia adalah seorang pekerja keras dan cukup taat dengan agama. Dia bekerja mengelola sawah dan ladang nya dari pagi hingga sore. Pada saat panen, tak lupa ia menyisihkan sepersepuluh hasil ladang nya untuk orang-orang tidak mampu.

Karim adalah seorang yang alim (berilmu). Ia sangat dikenal di desa itu karena ceramah-ceramah nya yang motivatif. Banyak orang kembali bertobat kepada ALLAH saat mendengar ceramah nya. Ia adalah seseorang yang taat beribadah kepada ALLAH.

Pada suatu hari, nasib yang cukup aneh menimpa mereka. Mereka bertiga terjangkit penyakit lepra. Karena sudah peraturan adat, mereka bertiga harus segera diasingkan dari desa tersebut. Penduduk kawatir mereka akan menyebarkan penyakit mengerikan itu. Sebuah gubuk kecil pun dibuatkan oleh warga di pinggiran desa, dan mereka bertiga tinggal disana.

Suatu malam, mereka bertiga mendapatkan mimpi yang sama. Di dalam mimpi itu mereka mendengar ALLAH berkata, “Berdoa lah, maka kalian akan sembuh.” Mereka pun segera melaksanakan apa yang dikatakan oleh mimpi tersebut. Setiap pagi dan malam mereka selalu berdoa meminta kesembuhan.

Setelah tiga hari, Abdul si pemabuk itu akhirnya sembuh. Dia segera pulang ke desa dan merasa sangat yakin bahwa Tuhan lebih menyayangi nya daripada dua orang yang lain itu.

Setelah tiga bulan, Ali si petani juga sembuh. Dia juga segera pulang ke desa dan terheran-heran mengapa Tuhan lebih sayang kepada nya daripada si Karim yang notabene seorang yang alim (berilmu). “Reputasi dia itu pasti palsu!” gumam nya kepada dirinya sendiri. Petani tersebut juga masih bertanya-tanya kenapa si pemabuk malah sembuh lebih dulu.

Tahun demi tahun pun berlalu. Karim si ahli ilmu tidak lelah berdoa kepada ALLAH untuk meminta kesembuhan, namun kesembuhan itu tak kunjung tiba. Tak ada lagi orang-orang yang datang menjenguk nya. Bahkan wajah dan tubuh nya sekarang sudah berubah menjadi mengerikan.

Pada suatu malam, Karim akhirnya bermimpi lagi. Ia bermimpi mendengar suara ALLAH berkata,”Karim, Aku tahu hati mu terusik dengan peristiwa ini, engkau tentu ingin tahu kenapa si pemabuk dan si petani itu Ku biarkan sembuh terlebih dulu.”

ALLAH melanjutkan, “Aku menjawab doa Abdul si pemabuk dengan cepat karena iman nya. Percaya kepada Ku selama tiga hari adalah seluruh iman nya. Jika Aku menunda nya, mungkin dia akan putus asa lalu bunuh diri. Untuk si petani, aku menunda kesembuhan nya selama tiga bulan, karena dia memiliki kepercayaan yang lebih besar kepada Ku. Tetapi setelah tiga bulan, maka keyakinan nya akan hilang dan dia bisa bertindak nekat juga.. Apakah engkau bisa mengerti?”

ALLAH kembali melanjutkan, “Karena engkau adalah hamba Ku yang setia, aku tidak bisa mengabaikan doa mu. Engkau memahami Maha Kuasa Ku. Buktinya, semakin lama Aku menunda kesembuhan mu, keyakinan mu padaku malah semakin dalam. Bahkan sekarang engkau sudah tidak peduli lagi apakah engkau akan sembuh atau mati, engkau hanya ingin berdoa pada Ku. Engkau tetap beriman kepada Ku tanpa peduli apapun yang terjadi pada mu. Aku telah menjadi segala-galanya bagi mu.”

Besok pagi nya, Karim terbangun dan dia telah sembuh dari penyakit lepra nya. Dan untuk pertama kali nya dia menyesali kesembuhan nya.