Bijaknya Islam Tentang Harta Dunia

Banyak ayat dan hadits yang membicarakan tentang sikap seorang mukmin terhadap harta dunia, namun yang penting adalah tujuan dari ayat dan hadits itu, yakni agar menjadi pengingat bagi mereka yang berpikir dan membangunkan mereka yang tertidur. Kini saatnya bagi kita semua untuk bangun dari keterlenaan, membuka hati dari tutup yang menyelimutinya karena terbuai oleh gemerlap dunia yang menipu, dan terus asyik terlena dengan segala kenikmatannya, yang kini terkadang menjadi tujuan terpenting dan puncak segala hal bagi sebagian kaum muslimin.

Kita tak perlu heran dengan pola kehidupan orang kafir yang sangat mengagung-agungkan filsafat materialistik dan mengumbar segala kesenangan dan kenikmatan dunia, yang seakan bagi mereka tidak ada lagi kenikmatan yang lain, selain apa yang mereka nikmati di dunia ini. Mereka, kata ALLAH SWT tidak mendapatkan bagian sama sekali di akhirat, sebagaimana firman-Nya:
“Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka” 
(QS. Muhammad:12)

Orang-orang kafir di akhirat tidak mendapatkan bagian sedikit pun, sedangkan orang-orang mukmin mereka hidup di dunia ini seperti layaknya seorang musafir yang melakukan perjalanan menuju akhirat, karena manusia tidak ada yang tahu kapan dia meninggalkan dunia ini menuju alam Barzakh, lalu ke kampung akhirat yang menjadi tujuan dan akhir dari perjalanannya.

Seorang mukmin sadar betul akan hal ini, bahkan “akhirat merupakan prinsip dasar dalam keimanan”. Namun dalam realita, hal itu terkadang hilang dari ingatan seorang muslim, hatinya dipenuhi dengan noda sehingga banyak orang yang melampaui batas dalam masalah keduniaan sampai-sampai mengalahkan urusan akhirat. Mereka melupakan hak-hak ALLAH SWT, melupakan hak hamba-hamba ALLAH yang lain, dan seakan-akan salah seorang dari mereka beranggapan bahwa dirinya diciptakan hanyalah untuk makan dan memuaskan diri sendiri.

Mana Harta Kita?
Seorang mukmin yang cerdik akan menyadari pendeknya kehidupan dunia dan yakin akan kematian, sehingga mendorong dirinya untuk menginfak kan harta kepada hal-hal yang memberikan manfaat untuk akhirat. Yakni dengan membelanjakannya dengan cara yang baik untuk keperluan diri dan keluarganya serta masyarakat dan kaum muslimin. Disebutkan di dalam sebuah hadits shahih, Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Bermegah-megahan (dalam harta, dan perkara dunia) telah melalaikan kamu semua"
Lalu beliau bersabda:
"Manusia mengatakan,”Hartaku, hartaku! Padahal kamu tidak mempunyai harta selain apa yang telah kamu sedekahkan dan telah kamu lakukan, atau apa yang kamu makan lalu lenyap, dan apa (baju) yang kamu pakai lalu telah koyak"

Itulah bagian kita, itulah harta yang sebenarnya dimiliki oleh manusia. Adapun yang masih tersisa adalah relatif, mungkin besok kita tinggalkan, mungkin berpindah tangan, mungkin hilang, terbakar, dicuri, dll. Lalu untuk apa manusia mengumpul kan harta dengan berlebihan tanpa mau membelanjakan harta itu ke jalan yang berguna. Mereka kumpulkan harta sekedar untuk ditumpuk, namun sayang tidak ada yang digunakan untuk cadangan nanti di akhirat. Di dalam sebuah hadits disebutkan:
"Bukanlah kaya itu dengan banyaknya harta benda, namun kekayaan adalah kaya jiwa"

Hadits-hadits tersebut diatas menjelaskan tentang keberadaan harta benda dan segala kepemilikan di dunia, bahwa semua itu merupakan sarana untuk membekali diri dengan ketaatan, dan bahwa “harta seseorang yang hakiki adalah segala yang telah dia infakkan untuk kebaikan”.

Ideal dalam Belanja
Sebuah ayat Al-Qur'an telah berbicara tentang sifat-sifat hamba ALLAH yang ideal (ibad ar-Rahman), yang salah satunya adalah seimbang dalam membelanjakan hartanya dan menempuh jalan tengah antara dua hal yang tercela, boros (berlebih-lebihan/mubadzir) dan bakhil (kikir/pelit):
“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian”
(QS. Al-Furqan:67)

Berkata Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya, "Yakni mereka tidak boros (mubadzir) di dalam membelanjakan harta, tidak menggunakannya melampaui batas kebutuhan. Dan mereka juga tidak bakhil (kikir) terhadap keluarganya, mengurangi hak mereka dengan tidak memberikannya. Akan tetapi menempuh jalan yang adil, dan sebaik-baik perkara adalah yang ditengah-tengah, tidak ini dan tidak itu."

Senada dengan ayat di atas ALLAH SWT berfirman:
“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (kikir) dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya (boros) karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal” (QS. Al Israa':29)

Imam Ibnu Katsir berkata, "Yaitu janganlah kamu bakhil, tidak mau memberi orang lain sama sekali dan janganlah kamu berlebih-lebihan di dalam membelanjakan harta, dengan membelanjakankannya melebihi dari batas kemampuanmu, serta mengeluarkan harta melebihi pendapatanmu, maka engkau akan tercela lagi meyesal.

Inilah aturan Islam [rule of Islam] di dalam membelanjakan harta, yaitu tengah-tengah antara berlebihan dan kikir, tidak ini dan tidak itu. Nabi Muhammad SAW telah bersabda:
"Makanlah, minumlah, berpakaianlah dan bersedekahlah kamu dengan tanpa berlebihan dan kesombongan" (HR. Imam Ahmad dan Abu Dawud)

Dalam hadits yang lain beliau bersabda:
"Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, lalu diberi rizki secukupnya dan ALLAH menjadikan dia qana'ah (menerima) terhadap apa yang Dia berikan" (HR. Muslim)

ALLAH SWT juga telah berfirman:
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan ALLAH kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana ALLAH telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya ALLAH tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (QS. Al Qashash:77)

ALLAH SWT menjelaskan kepada kita tentang cara membelanjakan harta, yakni tujuannya untuk mencari akhirat supaya berhasil meraih surga. Namun di sisi lain, kita tidak melupakan bagian kita di dunia dengan mengambil harta yang dibolehkan sesuai kebutuhan. Sungguh andaikan anggota badan manusia dapat berbicara pada hari ini, maka tentu akan berteriak mengingatkan kita agar tidak lupa terhadap bagian di akhirat. Maka apakah manusia tidak paham terhadap nilai harta, sehingga dengan kesadaran itu mereka mau menggunakannya sesuai fungsi dan kebutuhannya?

Sungguh sangat disayangkan, bahwa sangat banyak manusia di masa ini yang berlebihan dan tenggelam dalam buaian harta, sehingga segala sesuatu harus diukur dengan harta dan materi. Bahkan tidak jarang sebagian tokoh agama, orang berilmu, para pemegang urusan rakyat dan kaum muslimin yang mengukur segala sesuatu dengan nilai materi.

Melihat ke Bawah, Sebuah Terapi
Ada dua hal yang mendorong orang asyik tenggelam dalam urusan dunia, dan mencari harta dengan tanpa mempedulikan halal dan haram, yaitu:

Pertama; Karena lemahnya agama seseorang, dan ini tidak diragukan lagi. Karena seorang mukmin sejati tidak akan membentangkan tangannya untuk mencari harta dengan segala cara tanpa memperhatikan kehalalannya dan lebih-lebih yang haram. Jiwanya tidak condong kepadanya dan tidak mengikuti apa saja yang menjadi keinginannya.

Kedua; Berlebih-lebihan dalam makan, minum, kendaraan dan tempat tinggal dengan tanpa seperlunya, ditambah panjang angan-angan. Akhirnya nafsu yang ammaratun bissu' (menyuruh keburukan) terus mendorong dirinya untuk menandingi orang lain dalam materi, sehingga jiwa menjadi lemah dan akhirnya mencari harta dengan cara-cara yang haram. Padahal di dalam hadits shahih Nabi Muhammad SAW telah bersabda:
"Lihatlah orang yang lebih rendah dari pada kalian dalam urusan dunia, dan lihat yang lebih tinggi dalam urusan agama. Yang demikian itu lebih layak, sehingga kamu tidak meremehkan nikmat ALLAH yang diberikan kepadamu."

Berkata Aun bin Abdullah, "Dahulu aku adalah seorang yang senang berteman dengan orang-orang kaya, dan tidak ada seorang pun yang lebih banyak rasa gelisahnya daripada aku. Aku melihat tunggangan (kendaraan) yang lebih baik daripada tungganganku, melihat pakaian-pakaian yang lebih baik daripada pakaianku. Maka tatkala aku mendengar hadits ini, aku mulai bergaul dengan orang-orang fakir, maka akhirnya aku pun menjadi tenang."

Alangkah indahnya syair yang mengatakan,
Hawa nafsu selalu ingin terus..  jika dia dituruti
Jika engkau tuntun kepada yang sedikit.. maka dia akan menerima

Namun ini semua bukan berarti tidak mau sama sekali dengan urusan dunia, bukanlah demikian. Karena ALLAH itu indah dan Dia suka keindahan dan ALLAH suka jika pengaruh nikmat yang diberikan-Nya ada dan tampak pada seorang hamba. Hanya saja, jangan salah dalam menafsirkan ini, bukan berarti dengan berlebih-lebihan dan mubadzir serta menuruti segala kesenangan dunia dengan tidak semestinya. Sebagaimana yang sering kita saksikan di masyarakat, yakni banyak di antara mereka yang membelanjakan harta untuk berfoya-foya, membeli perhiasan berlebihan dan membeli barang-barang mewah yang melebihi kadar kebutuhan, seperti perangkat komunikasi yang mahal, alat transportasi yang mahal, dll, sementara disisi lain begitu banyak orang yang hidupnya sangat kekurangan. Atau membeli berbagai barang yang menjurus pada keharaman serta pergi melancong ke negri kafir dengan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Bahkan, bisa jadi biaya yang dikeluarkan dalam sekali bepergian jumlahnya mencukupi untuk biaya sekolah seorang anak dari SD hingga tamat SMU, sementara di sisi lain begitu banyak anak yang putus sekolah karena orang tuanya tidak sanggup membiayai.

Khatimah
Hendaklah kita semua menyadari bahwa seluruh nikmat, harta dan kekayaan apa saja yang kita miliki adalah dari sisi ALLAH SWT yang dititipkan dan dikuasakan kepada kita untuk menguji dan melihat apa yang kita lakukan terhadap titipan tersebut. Lalu akhirnya kita ditanya dari mana ia didapat dan ke mana dibelanjakan, sebagaiamana di dalam hadits:
"Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari Kiamat sehingga ditanya tentang umurnya untuk apa dia habiskan, tentang ilmunya apa yang di kerjakan dengannya, tentang hartanya dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan dan tentang badannya untuk apa dia pergunakan" (HR  At-Tirmidzi) 




Fitnah Dunia

Dari Amru bin Auf al Anshari RA bahwa Rasulullah SAW mengutus Abu Ubaidah bin al-Jarrah ke al-Bahrain untuk mengambil jizyahnya. Kemudian Abu Ubaidah datang dari Bahrain dengan membawa harta dan orang-orang Anshar mendengar kedatangan Abu Ubaidah. Mereka berkumpul untuk shalat Subuh dengan Nabi SAW tatkala selesai dan hendak pergi mereka mendatangi Rasul SAW, dan beliau tersenyum ketika melihat mereka kemudian bersabda:”Saya yakin kalian mendengar bahwa Abu Ubaidah datang dari Bahrain dengan membawa sesuatu?” Mereka menjawab:”Betul wahai Rasulullah”. Rasul SAW bersabda:” Berikanlah kabar gembira dan harapan apa yang menyenangkan kalian, demi Allah bukanlah kefakiran yang paling aku takutkan padamu tetapi aku takut dibukanya dunia untukmu sebagaimana telah dibuka bagi orang-orang sebelummu dan kalian akan berlomba-lomba mendapatkannya sebagaimana mereka berlomba-lomba, dan akan menghancurkanmu sebagaimana telah menghancurkan mereka” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah dari Nabi SAW bersabda: ”Celakalah hamba dinar (emas), dirham (perak), pakaian dan pakaian sutra. Jika diberi ia suka dan jika tidak ia tidak suka” (HR Bukhari). Dalam riwayat Bukhari yang lain:” Jika diberi ia suka dan jika tidak ia murka, celakalah dan semoga celaka dan jika terkena duri tidak ada yang mengeluarkannya. Berbahagialah bagi seorang hamba Allah yang mengambil kendali kudanya di jalan Allah kepalanya acak-acakan dan kakinya berdebu, jika ia disuruh berjaga maka berjaga dan jika disuruh di depan maka ia di depan. Jika ia minta izin tidak diizinkan dan jika minta pesan tidak dikabulkan”

Dari Abu Said Al-Khudri RA dari Nabi SAW bersabda:”Sesungguhnya dunia itu manis dan lezat, dan sesungguhnya Allah menitipkannya padamu, kemudian melihat bagaimana kamu menggunakannya. Maka hati-hatilah terhadap dunia dan hati-hatilah terhadap wanita, karena fitnah pertama yang menimpa bani Israel disebabkan wanita” (HR Muslim)

Harta dengan segala macamnya pada dasarnya adalah kenikmatan yang diberikan Allah swt kepada hambanya. Dan manusia harus menjadikannya sebagai sarana ibadah dalam hidupnya. Tetapi yang sering terjadi dan menimpa manusia ialah bahwa harta berubah menjadi fitnah dan bencana yang merugikan dirinya di dunia maupun akhirat. Sebagaimana diisyaratkan dalam Al-Qur’an yang artinya:

”Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar” (At-Taghaabun 14-15).

Allah SWT berfirman yang artinya:
”Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan `ainul yaqin, kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)” (At-Takaatsur 1-8)

Manusia yang mestinya menjadikan harta sebagai sarana tetapi mereka menjadikan nya tujuan hidup bahkan banyak yang menghambakan hidupnya pada harta. Sehingga celakalah mereka. Oleh karenanya agar manusia tidak terfitnah dengan harta dan tidak jatuh pada fitnahnya hendaknya mereka mengetahui beberapa hal berikut:

1. Hakikat Harta dan Dunia
a. Dunia adalah permainan dan senda gurau. Allah SWT berfirman yang artinya:
”Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui” (QS Al-Ankabuut 64).

b. Kesenangan yang menipu. Allah SWT berfirman yang artinya:
”Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan” (QS Ali Imran 185).

c. Kesenangan yang terbatas dan sementara, Firman-Nya;
“Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya” (QS Ali Imran 196-197)

d. Jalan atau jembatan menuju akhirat, Rasulullah SAW bersabda yang artinya:
“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir” (HR Bukhari dari Ibnu Umar). Imam Ahmad, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah menambahkan: “Posisikan dirimu bahwa engkau termasuk ahli kubur”.

2. Mengetahui Kedudukan Manusia
Manusia diciptakan Allah sebagai pemimpin yang harus memakmurkan bumi. Maka mereka harus menguasai dunia atau harta bukan dikuasai oleh harta. Sebagaimana doa yang diungkapkan oleh Abu Bakar RA: ”Ya Allah jadikanlah dunia di tanganku bukan masuk ke dalam hatiku”. Kedudukan manusia lebih mulia dari dunia dan seisinya maka jangan sampai diperbudak oleh dunia atau harta benda. Manusia memang harus memakmurkan dunia tetapi jangan sampai hal itu melalaikan dirinya dari visi dan misi mereka.

3. Mengetahui bahwa segala yang dimiliki manusia berupa harta kekayaan akan dihisab. Manusia harus mengetahui dan sadar bahwa kekayaan yang mereka miliki akan diperhitungkan di akhirat kelak. Bahkan semua yang dimiliki dan dinikmati manusia baik kecil maupun besar akan dicatat dan dipertanggungjawabkannya. Oleh karenanya mereka harus berhati-hati dalam mencari harta kekayaan dan dalam membelanjakannya. Jangan sampai mencarinya dengan cara yang diharamkan Allah dan membelanjakannya pada sesuatu yang diharamkan Allah. Lebih jauh lagi manusia harus menjauhkan diri dari diperbudak oleh harta.

4. Sadar bahwa kenikmatan di akhirat jauh lebih nikmat dan abadi. Seluruh bentuk kenikmatan Allah yang diberikan hamba-Nya di dunia hanyalah sebagian kecil saja. Rasulullah saw bersabda yang artinya: Artinya: Dari Abu Hurairah RA berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda:

”Allah menjadikan rahmat 100 bagian, 99 bagian Allah tahan dan Allah turunkan ke bumi satu bagian. Satu bagian itulah yang menyebabkan sesama makhluk saling menyayangi sampai kuda mengangkat telapak kakinya dari anaknya khawatir mengenainya” (Muttafaqun ‘alaihi).

Begitulah, kenikmatan paling nikmat yang Allah berikan di dunia hanyalah satu bagian saja dari rahmat Allah swt sedangkan sisanya Allah tahan dan hanya akan diberikan kepada orang-orang beriman di surga. Oleh karena itu dalam kesempatan lain Rasulullah saw bersabda tentang dunia bagi orang beriman yang artinya: Dari Abu Hurairah RA berkata:
“Rasulullah SAW bersabda: “Dunia adalah penjara bagi mukmin dan surga bagi orang kafir” (HR Muslim).

Bahkan Rasulullah SAW suatu saat dalam perjalanan bersama sahabat dan melewati pasar, di sana ada seekor kambing yang mati dan cacat. Maka Rasulullah saw memegang telinganya dan berkata: “Siapakah yang mau membeli kambing ini satu dirham?” Sahabat berkata: “Kami tidak suka sedikit pun, dan untuk apa kambing itu?” Rasul saw melanjutkan: “Maukah ini untukmu?” Sahabat menjawab: “Demi Allah jika masih hidup kambing ini cacat, apalagi kambing sudah jadi bangkai!” Maka Rasulullah bersabda: “Demi Allah dunia untukmu lebih hina dari kambing ini di hadapan Allah”. Allah SWT berfirman yang artinya:

“Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir” (QS At-Taubah 55)

Begitulah karakteristik dunia yang dicari-cari manusia..