Tempatkanlah ALLAH Diatas Segalanya




Tempatkanlah ALLAH Diatas Segalanya..
"Hidup bukan untuk hidup, tapi hidup untuk Yang Maha Hidup”

ALLAH Sebaik-Baik Perancang




Engkau merencanakan hidupmu, tetapi ALLAH juga merencanakan hidup hamba-Nya.. Perancangan-Nya sungguh berseni, sungguh indah dan sungguh sempurna.. Hidup ini sudah ada Yang Mengatur, tinggal dekati saja Yang Mengatur nya.. karena Dia lah sebaik-baik Perancang..

ALLAH Maha Tahu dan sentiasa memperhatikanmu dengan pandangan Kasih Sayang-Nya.. Dia hanya ingin yang terbaik untuk kehidupanmu..

Dia tidak terlihat namun bisa dirasa.. Dia lah Perancang Terindah sekaligus Sutradara Terhebat sepanjang masa..

Jika engkau mau tahu kedudukanmu di sisi ALLAH, lihatlah kedudukan ALLAH dalam hatimu..
Jika ALLAH engkau jadikan segalanya dalam hidupmu, saat itu ALLAH telah memberikan segalanya untukmu..

Rasa takutmu kepada-Nya tidak membuatmu malah lari menjauhi-Nya, tapi justru membuatmu makin lari mendekat kepada-Nya..

(ALLAH The True Creator, Planner & Designer - roni afriza)

Keutamaan Tauhid


Hidup di dunia hanya punya satu tujuan luhur, yaitu mengabdi (beribadah) hanya kepada ALLAH (Tauhidullah).

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (AlQur’an | Adz-Dzariyat [51] : 56)

Sesungguhnya Aku ini adalah ALLAH, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku” (AlQur’an | Thaahaa [20] : 14)

Sehingga apapun aktivitas kita, hendaknya bernilai ibadah di sisi ALLAH.

Katakanlah, Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk ALLAH, Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya” (AlQur’an | Al-An’am [6] : 162-163)

Akidah tauhid harus dimaknai secara komprehensif dan menjadi komitmen teologis Muslim sebagaimana tercermin dalam Iyyaka na’budu wa iyyaka nas’ta’in (Hanya kepada Engkau kami beribadah, dan hanya kepada Engkau pula kami memohon pertolongan). Komitmen mendasar bahwa Muslim tidak boleh melakukan perselingkuhan teologis (syirik).

Hidupku kupersembahkan kepada: “(Tuhan Semesta Alam, yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku, dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku,  dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat" (AlQur’an | Asy Syu'araa' [26] : 78-82)

Sesungguhnya puncak tujuan agama yang paling hakiki dan tujuan penciptaan jin dan manusia, serta tujuan diutusnya para Rasul dan diturunkannya kitab-kitab suci adalah peribadatan kepada ALLAH (Tauhid), serta pemurnian agama hanya untuk-Nya.

“Aliif Laam Raa. (Inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi (ALLAH) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu. Agar kalian tidak beribadah kecuali kepada ALLAH. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira kepadamu daripada-Nya” (AlQur’an | Huud [11] : 1-2)

Pendidikan manusia berbasis kehambaan (ALLAH tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk mengabdi kepada-Nya) adalah formula terbaik agar manusia berakhlak mulia, rendah hati, santun, lemah lembut, dsb.

Begitu agung nilai tauhid dalam kehidupan manusia, sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjuang dengan sekuat tenaga, menjaga dan menutup semua pintu yang dapat merusak tauhid pada umatnya. Bahkan, hingga saat-saat Beliau di atas ranjang kematian, tak henti-hentinya Beliau mengingatkan perkara tauhid ini.

 Tauhid = Basic Belief
Setiap peradaban di muka bumi ini memiliki ‘keyakinan dasar’ (basic belief) yang kemudian berakumulasi menjadi pandangan dunia (worldview). Worldview inilah yang menjadi cara setiap orang memahami kehidupan dalam semua hal termasuk politik, ekonomi, sosial, budaya, serta pandangan yang bersifat keilmuan.

Islam merupakan sebuah peradaban dengan basic belief yang disebut ‘Tauhid’, yakni keyakinan bahwa ALLAH sebagai satu-satunya Tuhan yang tidak bersekutu, yang merupakan sumber dari segala sesuatu dan paling berhak untuk diagungkan. Keyakinan ini menjadi pandangan hidup yang melihat kehidupan dalam prinsip kesatuan, serta menerima nilai final yang bersumber dari wahyu.

 Tauhid (Oneness of God)

"Katakanlah: Dia-lah ALLAH, Yang Maha Esa" (Al Quran | Al Ikhlash:1)

Seorang manusia adalah satu, tapi terdiri dari unsur-unsur (seperti mata, kulit, rambut, tulang, unsur air [airmata, keringat, darah], dll)..
Berarti manusia butuh unsur lain agar bisa disebut sebagai seorang manusia..
Dan, semua makhluk hidup juga saling membutuhkan unsur lain..
Manusia membutuhkan oksigen dari tumbuhan, dan tumbuhan membutuhkan CO2 dari manusia..
Manusia membutuhkan unsur air untuk diminum, juga membutuhkan unsur hewan dan tumbuhan untuk dimakan..

ALLAH adalah Satu (Maha Esa), tapi tidak terdiri dari unsur-unsur..
Karena begitu dia terdiri lebih dari satu unsur, berarti dia membutuhkan unsur lain..
Kita tidak bisa membayangkan dalam pikiran kita bahwa dia itu butuh..
Karena begitu dia butuh, berarti dia bukanlah Tuhan..

Manusia makan dan minum, karena tanpa itu manusia akan mati..
Manusia kawin (suami istri) dan punya anak, karena tanpa itu manusia akan punah..
ALLAH tidak makan dan minum, bukan karena ketidakmampuan ALLAH untuk makan minum, tapi justru menunjukkan ke-Agung-an ALLAH, meskipun tanpa makan dan minum ALLAH tidak akan mati..

ALLAH tidak punya anak, bukan berarti karena ketidakmampuan ALLAH untuk mempunyai anak, tapi justru tanpa anakpun ALLAH tidak akan punah..
Jika seandainya Tuhan makan dan minum, kawin serta punya anak, lantas apa bedanya dengan manusia?

“ALLAH tidak beranak dan tidak pula diperanakkan” (AlQuran | Al Ikhlash:3)
"Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan ALLAH" (AlQuran | Al Ikhlash:3)
"Tidak ada satupun yang menyerupai ALLAH" (AlQuran | As-Syura:11)

Makan dan minum juga memasukkan unsur lain berupa makanan dan minuman ke dalam tubuh manusia..
Berarti ALLAH tidak makan dan minum, karena ALLAH tidak butuh unsur lain..

Manusia membutuhkan istri dan anak dari jenis unsur lain yang serupa/setara/sama..
ALLAH tidak butuh istri dan anak, karena ALLAH tidak butuh unsur lain, apalagi yang serupa/sama..
Berarti ALLAH tidak memiliki istri dan anak, jadi tidak ada yang serupa/setara/sama dengan-Nya (Maha Esa)

ALLAH Maha Esa dalam Dzat-Nya..tidak terdiri dari unsur-unsur dan tidak butuh unsur lain

Dan, inilah yang paling utama dibutuhkan manusia dalam hidupnya: manusia butuh ALLAH..
Ini juga akan melahirkan keesaan beribadah manusia kepada ALLAH.. Jangan sampai dalam beribadah terlibat sesuatu selain ALLAH

"ALLAH adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu" (Al Quran | Al Ikhlash:2)

Tujuan Hidup Untuk Beribadah


Rasa bosan hidup yang ALLAH berikan kepada orang yang banyak melakukan maksiat, atau mencari kebahagian bukan dengan cara yang ALLAH ridhai, akan menjadikan sempit kehidupan dunia mereka sehingga mereka merasa terus tertekan. Maka orang yang demikian ini meskipun berada dalam kehidupan yang glamour dan penuh gemerlap, namun senantiasa merasa tersiksa hidupnya. Mengapa mereka yang banyak menikmati musik, mengunjungi tempat-tempat hiburan (maksiat), meminum khamar, melihat yang haram dan lain sebagainya, hanya menikmati itu dalam sesaat lalu setelah itu berubah menjadi kesempitan dan kegalauan. Mengapa demikian?

Karena ALLAH menciptakan manusia untuk satu tugas, yang tidak akan mungkin kehidupan menjadi lurus jika dia melupakan tugas itu dan sibuk dengan selainnya. Tugas itu adalah beribadah, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (AlQur’an | 51 : 56)

Jika seseorang menggunakan hidupnya untuk sesuatu yang bertetangan dengan tujuan dari penciptaannya maka kehidupannya akan menjadi berantakan. Siapa yang menggunakan hidupnya bukan untuk fungsi beribadah maka dia akan celaka dan sengsara. Jika kondisi suatu masyarakat atau bangsa yang kehidupannya bukan untuk beribadah kepada ALLAH, maka akan didapati mereka dalam keadaan rusak dan mendapatkan kesempitan hidup, “Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta" (AlQur’an | 20 : 124)

Siapa yang tujuan hidupnya beribadah kepada ALLAH sepenuh hati maka mereka mendapatkan kebahagiaan, “Barangsiapa yang mengerjakan amal sholeh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (AlQur’an | 16 : 97)


Cukup ALLAH Saja

“Bukankah ALLAH cukup untuk hamba-hamba-Nya” (AlQur’an | Az Zumar [39] : 36)

“ALLAH adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu” (AlQur’an | Al Ikhlash [112] : 2)

“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilang semua yang biasa kamu panggil, kecuali Dia” (AlQur’an | Al Israa’ [17] : 67)

"Cukuplah ALLAH menjadi Penolong kami dan ALLAH adalah sebaik-baik Pelindung" (AlQur’an | Ali 'Imran [3] : 173)

Biasakan hanya mencari ALLAH. Biasakan hanya bersandar kepada ALLAH. Biasakan hanya perlu dan memohon kepada ALLAH.

"ALLAH Maha lembut terhadap hamba-hamba-Nya" (AlQur’an | Asy Syuura [42] : 19)
Orang yang sukses adalah orang yang dirinya bergantung kepada ALLAH.

“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi ALLAH lah kemuliaan itu semuanya” (Al Qur'an | Fathir [35] : 10)

“Barangsiapa bertakwa kepada ALLAH niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar” (AlQur’an | Ath Thalaaq [65] : 2)

“Dan barang-siapa yang bertakwa kepada ALLAH, niscaya ALLAH menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya” (AlQur’an | Ath Thalaaq [65] : 4)

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih" (AlQur’an | Ibrahim [14] : 7)

"Wahai Nabi, cukuplah ALLAH (menjadi Pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mu'min yang mengikutimu" (Al Qur'an | Al Anfaal [8] : 64)

"Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan ALLAH. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap ALLAH)" (Al Qur'an | Al An'aam [6] : 116)

Dzikir



Istilah dzikir berasal dari bahasa Arab, dzakara-yadzkuru-dzikr. Artinya menyucikan dan memuji (ALLAH); ingat, mengingat, peringatan; menutur; menyebut; dan melafalkan.

Di dalam AlQuran (yang juga disebut Adz-Dzikra) kita dapat menjumpai kata itu dalam berbagai bentuknya lebih dari 280 kali dengan beragam makna.

Dzikir secara istilah berarti mengingat dan menyebut ALLAH. Seseorang yang mengingat ALLAH maka lisannya terus menyebut ALLAH. Dan, hatinya juga terus mengingat ALLAH.

Mengingat gerak hati sedangkan menyebut gerak lisan. Karena itu, dzikir bisa dilakukan dengan hati (mengingat), bisa pula dengan lisan (mengucap). Perpaduan keduanya akan mengantarkan pada makna khusyu’.

Berdzikir kepada ALLAH merupakan kesibukan yang terbaik, dan cara yang paling utama bagi seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada ALLAH yang MahaSuci dan MahaTinggi.

ALLAH memerintahkan hamba-Nya untuk berdzikir, karena dengan berdzikir maka kita banyak sekali mendapatkan manfaatnya dan keutamaannya.

“Ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku” (AlQur'an | Al Baqarah [2] : 152)

"Dan sebutlah (Nama) Rabb-mu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut (pada siksaan-Nya), serta tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan sore hari. Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai" (Al Qur'an | Al A'raaf : 205)

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat, ingatlah ALLAH di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring” (Al Qur'an | An Nisa [4] : 103)

"Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut Nama) ALLAH, dzikir yang sebanyak-banyaknya" (Al Qur'an | Al-Ahzaab [33] : 41)

"laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) ALLAH, ALLAH telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar" (Al Qur'an | Al Ahzaab : 35)

“Hanya dengan mengingat ALLAH-lah hati menjadi tenang” (Al Qur'an | Ar Ra'd [13] : 28)

“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut (pada siksaan-Nya), tidak mengeraskan suara, di pagi dan sore hari. Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai” (Al Qur'an | Al A’raf: 205)

“Dan sebutlah (nama) ALLAH sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung” (Al Qur'an | Al Anfal : 45)

“Hai orang-orang yang beriman berdzikirlah yang banyak kepada ALLAH (dengan menyebut nama-Nya)” (Al Qur'an | Al Ahzaab : 41)

“Dan sesungguhnya mengingat ALLAH adalah lebih besar (keutamaannya)” (Al Qur'an | Al 'Ankabut : 45)

“Sungguh berbahagia orang yang menyucikan jiwanya dan sungguh merugi orang yang justru mengotorinya” (Al Qur'an | Asy Syams : 9-10)

“Dan ingatlah Rabbmu di dalam hatimu dengan penuh perendahan diri, merasa takut, dan tanpa mengeraskan suara di waktu pagi ataupun di waktu sore. Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai” (Al Qur'an | Al A’raaf : 205)

Rasulullah saw bersabda:
"Maukah kamu aku tunjukkan perbuatanmu yang terbaik, paling suci di sisi Raja-mu (ALLAH), dan paling mengangkat derajatmu; lebih baik bagimu dari infak emas atau perak, dan lebih baik bagimu daripada bertemu dengan musuhmu, lantas kamu memenggal lehernya atau mereka memenggal lehermu?" Para Sahabat yang hadir berkata: "Mau (wahai Rasulullah)!" Beliau bersabda: "Dzikir kepada ALLAH Yang Mahatinggi" (HR At-Tirmidzi no 3377, Ibnu Majah no 3790)

Dalam salah satu kesempatan Nabi menyatakan bahwa Beliau lebih menyukai ahli dzikir daripada ahli sedekah:
"Jika ada seseorang yang memiliki uang banyak di tempatnya lalu ia membagi-bagikannya, dan ada orang lain yang menibukkan diri dengan dzikrullah, maka orang yang berdzikir kepada ALLAH itu adalah yang lebih utama"

“Perumpamaan orang yang berdzikir pada Tuhannya dengan orang yang tidak berdzikir pada-Nya, adalah seperti orang hidup dengan orang mati” (HR Bukhari No 5928, Muslim No 1299)

Dari Mu’adz bin Jabal ra, Rasulullah saw bersabda: “Ahli syurga tidak akan menyesal (apapun di dunia ini) kecuali satu hal, atas waktu yang telah mereka lalui tanpa dzikrullah (berdzikir kepada ALLAH) didalamnya“ (HR Thabrani, Baihaqi)

“Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang” (Al Qur'an | Thaahaa [20] : 130)

Kalimat tamjid (memuliakan dan mengagungkan ALLAH):
SubhanALLAH, Walhamdulillah, Walailaha illALLAH, WALLAHu Akbar
(Maha Suci ALLAH, segenap puji bagi ALLAH, tiada Tuhan melainkan ALLAH dan ALLAH adalah Maha Besar) TASBIH (Mensucikan ALLAH), TAHMID (Memuji ALLAH), TAHLIL (Mengesakan Alllah), TAKBIR (Mengagungkan ALLAH)

Dengan berzikir kepada ALLAH maka hati akan menjadi hidup. Dzikir adalah amalan istimewa dan merupakan media yang membuat kehidupan Nabi dan para sahabat benar-benar hidup. Beberapa manfaat Dzikir:
- Orang yang berdzikir dekat dengan ALLAH
- Suara orang yang berdzikir dikenal di langit tertinggi
- Pahala berdzikir sama dengan berinfak dan berjihad dijalan ALLAH
- Menyinari wajah dan hati
- Pembuka semua pintu ilmu
- Menghidupkan hati
- Melembutkan hati
- Membersihkan hati
- Mendekatkan kepada ahirat dan menjauhkan dari dunia
- Dzikir adalah bunga dan pohon surga
- Dengan dzikir rumah-rumah surga dibangun, dan kebun-kebun surga ditanami tumbuhan dzikir

Dzikirlah sebanyak-banyaknya
Ketika anda berdzikir, manakah yang lebih diperhatikan : hitungannya atau ALLAH-nya?. Seringkali kita tidak sadar, ketika berdzikir, kita terlalu memperhatikan jumlah hitungan yang harus dicapai. Seolah-olah jumlah hitungan itu sangat penting sehingga kalau meleset, gugurlah pahala dzikir kita. Kita menjadi lupa, bahwa tujuan berdzikir adalah untuk mengingat ALLAH bukan menghitung bacaan.

“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) ALLAH, dzikir yang sebanyak-banyaknya” (AlQur'an | al Ahzab 33 : 41)

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah ALLAH di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. (AlQur'an | an Nisaa' 4 : 103)

Kesemuanya mengajarkan dzikir tanpa hitungan, sebanyak-banyaknya dan setiap saat.