Salah Memaknai Ungkapan Sebagai Hadist

Misunderstanding (salah pengertian) & Misperception (salah pemahaman) memaknai ‘ungkapan’ sebagai “Hadist”..

Berpikir merupakan pangkal dari tindakan. Agar dapat berpikir Qur`ani, mau tak mau harus akrab dan bergaul dengan Al Qur`an..

Kualitas Hadits Shahih (berasal dari ucapan Nabi Muhammad SAW & sejalan dengan Al Qur'an) berbeda dengan ungkapan..

‘Bekerjalah kamu untuk kepentingan duniamu seolah-olah kamu akan hidup selamanya, dan bekerjalah kamu untuk kepentingan akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok’

+Menurut Syeikh Muhammad Nashir Al-Din Al-Albani & Syeikh Abd Al-Karim Al-Amiri Al-Ghazzi, hadist ini bukanlah berasal dari Nabi Muhammad SAW..

+Menurut Ibnu Qutaiba, hadits ini bersumber dari sahabat Nabi yaitu Abdullah bin Amr..

Secara umum ungkapan ini tidak dapat disebut sebagai “Hadist” karena tidak bersumber dari Nabi Muhammad SAW. Ungkapan Abdullah bin Amr ini hanyalah berkaitan dengan pemikiran beliau sendiri tentang masalah keduniaan..

Dalam sumber-sumber yang disebutkan diatas, ungkapan Abdullah bin Amr ini ternyata terputus, artinya ungkapan tersebut ‘meragukan’..

Ungkapan tersebut mengandung kata ‘seolah-olah’, menganjurkan berandai-andai..menyiratkan makna ‘pengandaian’ & ‘manipulasi pikiran’.. kita diminta untuk ‘membohongi’ diri sendiri..

Secara logis, kita dianjurkan berbohong pada diri sendiri ‘akan hidup selamanya di dunia’ (kekal tapi semu).. padahal bertentangan/bertolak belakang dengan nalar Al Qur’an yang justru menganjurkan banyak “mengingat kematian”..

Ungkapan tersebut bisa dibilang ‘mindset’ karena yang berbeda adalah ‘cara berpikir/nalar’ nya ..

Mungkinkah kita bisa berpikir akan mati besok sementara di waktu yang bersamaan kita juga berpikir akan hidup selamanya?
Secara logis, memang sulit jika kita berpikir ‘bertentangan/berlawanan’ di saat waktu yang bersamaan..

Dari segi subtansinya, ungkapan tersebut perlu ditinjau kembali karena mengandung perintah agar manusia ‘berlomba-lomba untuk mencari harta dunia’. Hal ini bertentangan dengan ajaran Islam (nalar Al Qur’an) yang menganjurkan kepada kita “berlomba-lomba berbuat kebaikan” dan mengingat kematian, dengan tujuan agar kita bisa beramal untuk bekal di akhirat kelak..

“..ALLAH hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebaikan..”
(Al Qur’an | Al Maa’idah [5] : 48)

“Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati..”
(Al Qur’an | Al 'Ankabuut [29] : 57)

Kualitas Hadits Shahih:
Dari Abu Hurairah r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya ALLAH tidak memandang kepada rupa kamu juga tidak memandang kepada harta kamu, akan tetapi ALLAH melihat kepada hati dan amalan kamu”
(Hadist Shahih Riwayat Muslim)

Dari Abu Hurairah r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda: "Tangan yang di atas (pemberi) itu lebih baik daripada tangan yang di bawah (diberi) dan dahulukan orang yang menjadi tanggunganmu. Sebaik-baik sedekah adalah sedekah yang diberikan oleh orang yang mempunyai kelebihan. Barangsiapa yang berusaha untuk menjaga kehormatan dirinya maka ALLAH akan menjaga kehormatan dirinya, dan barangsiapa yang merasa dirinya cukup maka ALLAH akan mencukupkannya"
(Hadist Shahih Riwayat Bukhari)